Belibis.com – “The end of the world was only the beginning.” Sekuel Greenland datang membawa pesan sederhana: lolos dari kiamat bukan akhir cerita—justru awal dari perang yang lebih panjang. Berikut ulasan kesan awal berdasarkan trailer dan sinopsis resmi menjelang rilis.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Film bencana biasanya punya pola yang mudah ditebak: meteor jatuh, kota hancur, manusia lari, lalu ada satu keluarga yang berusaha selamat.
Namun Greenland (2020) dulu terasa berbeda karena fokusnya bukan pada pahlawan super atau ilmuwan jenius, melainkan pada keluarga biasa yang dipaksa membuat pilihan brutal dalam waktu singkat. Sekuelnya, “Greenland 2: Migration”, tampak ingin menjaga “rasa” itu—
tetapi dengan skala yang lebih luas dan suasana yang jauh lebih kelam.Catatan penting: artikel ini adalah kesan awal (preview/review trailer) karena filmnya dijadwalkan tayang 9 Januari 2026.
Jadi, yang dibahas di bawah adalah apa yang tampak dari materi promosi, sinopsis resmi, dan informasi produksi yang sudah dipublikasikan.
Tetap non-spoiler, dengan fokus pada hal yang relevan bagi penonton yang sedang mempertimbangkan: “apakah film ini worth ditunggu?”

Sinopsis Singkat: Keluar dari Bunker, Masuk ke Neraka Versi Baru

Lima tahun setelah hantaman komet yang memporak-porandakan Bumi, keluarga Garrity—John (Gerard Butler), Allison (Morena Baccarin), dan putra mereka Nathan (kini diperankan Roman Griffin Davis) dipaksa meninggalkan bunker Greenland yang selama ini jadi tempat perlindungan. Mereka tidak pergi karena “berani”, melainkan karena kondisi di dalam bunker tampaknya tidak lagi aman dan dunia di luar memaksa mereka untuk bergerak.

Misi mereka terdengar sederhana sekaligus mengerikan: menyeberangi wilayah Eropa yang sudah berubah menjadi gurun dingin penuh bahaya, mencari tempat baru yang memungkinkan kehidupan dimulai lagi. Tapi “migrasi” di sini bukan perjalanan wisata—lebih mirip lomba bertahan hidup
di tengah badai radiasi, reruntuhan, konflik antar penyintas, dan ancaman langit yang masih belum benar-benar tenang.

Apa yang Berbeda dari Film Pertama?

Kalau film pertama adalah race to the bunker—perlombaan menuju titik aman sebelum komet menghantam—maka film kedua tampak seperti race to the future. Dunia sudah keburu hancur. Tidak ada “deadline kiamat” yang jelas, tapi ada tekanan konstan:
apakah manusia masih punya tempat untuk hidup?

Dari trailer dan ringkasan cerita, fokus ancaman bergeser dari “satu bencana besar” menjadi “serangkaian bencana dan efek jangka panjang”:
cuaca ekstrem, fragmen meteor yang masih menghujani, dan lingkungan yang tidak stabil. Nada filmnya pun terasa lebih post-apocalyptic dibanding sekadar disaster thriller biasa.

Gerard Butler Kembali sebagai John Garrity: Ayah yang Bertahan dengan Cara Paling Manusiawi

Salah satu kekuatan Greenland dulu adalah karakter John Garrity yang bukan tipe pahlawan tanpa takut. Ia lebih sering terlihat bingung, marah, panik—dan itu justru membuatnya terasa nyata. Di sekuel ini, beban karakternya naik level: bukan hanya menyelamatkan keluarganya dari satu malam kiamat, tetapi menjaga mereka tetap hidup di dunia yang sudah tidak punya sistem.

Kesan awalnya, film ini masih mengandalkan “energi survival” Butler: tatapan lelah, keputusan cepat, dan sikap protektif yang kadang membuatnya bertabrakan dengan manusia lain. Beberapa potongan dialog di trailer memberi sinyal bahwa film ini ingin menonjolkan sisi emosional:
bertahan hidup bukan cuma soal fisik, tapi juga soal mental—tentang seberapa jauh seseorang mau “mengorbankan diri” demi keluarga.

Morena Baccarin sebagai Allison: Lebih dari Sekadar “Istri yang Ikut Lari”

Di banyak film bencana, karakter pasangan sering dijadikan “penumpang emosional” yang fungsinya hanya menangis atau menunggu diselamatkan.
Greenland dulu cukup menghindari jebakan itu: Allison punya kemarahan dan instingnya sendiri. Di “Migration”, potongan adegan memperlihatkan Allison bukan sekadar pendamping, tetapi juga “otak kewaspadaan” yang menjaga keluarga tetap waras ketika dunia makin liar.

Dari sisi dinamika, menarik melihat bagaimana film ini akan memperlakukan konflik batin keluarga: bertahan hidup itu melelahkan, dan hubungan manusia biasanya retak di kondisi ekstrem. Jika film ini berhasil menulis tensi keluarga tanpa melodrama murahan, itu bisa jadi nilai plus yang kuat.

Nathan yang Beranjak Remaja: Risiko Emosi, Risiko Cerita

Ada perubahan mencolok: Nathan kini diperankan oleh Roman Griffin Davis (pengganti pemeran di film pertama).
Pergantian aktor biasanya punya dua efek: (1) penonton butuh adaptasi, (2) karakter bisa terasa “baru” dan memberi energi segar.
Dengan latar waktu lima tahun, perubahan ini masih masuk akal secara cerita.

Nathan yang lebih besar membuka kemungkinan konflik baru: kemandirian, rasa takut, kemarahan, dan pertanyaan moral yang lebih matang.
Tantangannya: film seperti ini harus menyeimbangkan “drama remaja” agar tidak memakan ruang yang seharusnya dipakai untuk ketegangan survival.
Kalau porsinya pas, Nathan bisa jadi pusat emosi yang membuat penonton lebih terikat.

Aksi dan Set-Piece: Ketegangan yang Tampak Lebih “Dekat” dan Brutal

Dari materi promosi, “Migration” tidak hanya menjual ledakan besar. Yang terasa menonjol adalah set-piece yang membuat bahaya terasa dekat:
orang berlari di lorong sempit, kerumunan panik, air menerjang, badai yang menekan napas, hingga adegan yang menampilkan langit masih menyimpan ancaman. Film ini seperti ingin berkata: kiamat bukan satu kejadian, tetapi kondisi yang terus mengejar.

Secara estetika, palet warna terlihat lebih dingin, lebih kelabu, dan lebih “kotor”. Ini cocok untuk menggambarkan dunia yang tidak lagi bersih dan tertata. Jika film pertama punya vibe “kacau tapi masih ada harapan”, sekuel ini tampak lebih tegas: harapan itu ada, tapi mahal dan penuh risiko.

Yang Menarik: Tema “Migrasi” dan Moralitas Setelah Peradaban Runtuh

Judulnya bukan sekadar tempelan. Kata “Migration” memberi isyarat bahwa film ini bicara tentang perpindahan besar: bukan hanya keluarga Garrity, tetapi manusia sebagai spesies yang mencari tempat aman baru. Dan di situ, pertanyaan moral biasanya muncul:
siapa yang berhak hidup? siapa yang dipilih? siapa yang ditinggalkan?

Film pertama sudah menyinggung isu itu secara halus—terutama soal akses ke bunker. Sekuel ini berpotensi memperluasnya:
ketika sumber daya makin menipis, solidaritas sering kalah oleh kepanikan. Dari beberapa potongan adegan, tampak ada kelompok-kelompok penyintas, dan kemungkinan konflik antar manusia yang sama berbahayanya dengan bencana alam.

Sutradara dan Gaya Bercerita: Masih di Jalur yang Sama, Tapi Lebih Ambisius

“Greenland 2: Migration” kembali disutradarai Ric Roman Waugh, yang juga menangani film pertamanya.
Konsistensi ini biasanya kabar baik untuk sekuel, karena tone dan ritmenya bisa tetap nyambung.
Dari kesan trailer, Waugh tampaknya kembali memainkan gaya “tegang tapi membumi”: aksi yang terasa fisikal, kamera yang membuat penonton ikut sesak, dan drama keluarga yang tidak terlalu “puitis”.

Namun sekuel selalu punya tantangan: skala lebih besar sering menggoda film untuk jadi “lebih heboh” tapi kehilangan rasa.
Jika “Migration” berhasil menjaga fokus pada keluarga sambil tetap memperluas dunia, ia bisa jadi sekuel yang pantas.
Jika tidak, ia berisiko jadi tontonan bencana biasa yang cepat dilupakan.

Hal yang Berpotensi Jadi Kelemahan

  • Ekspektasi vs logika dunia: film post-apocalyptic rentan pada pertanyaan “kok bisa?”—mulai dari kondisi lingkungan, suplai obat,
    hingga perjalanan lintas wilayah. Jika penjelasan terlalu tipis, penonton yang kritis bisa cepat “keluar” dari emosi film.
  • Risiko repetisi: karena masih bercerita tentang keluarga yang lari dari bencana, film harus punya variasi konflik yang kuat agar tidak terasa mengulang.
  • Karakter pendukung: sekuel biasanya menambah karakter baru. Tantangannya adalah membuat mereka tidak sekadar “pengisi adegan”,
    tetapi punya fungsi dramatis yang jelas.

Siapa yang Cocok Menonton?

  • Penonton yang suka disaster thriller dengan fokus keluarga dan ketegangan “grounded”.
  • Fans Gerard Butler yang menikmati gaya survival action yang emosional.
  • Penonton yang suka cerita post-apocalyptic yang tidak terlalu sci-fi rumit, tetapi lebih ke “survival manusia”.

Jika kamu mencari film bencana yang penuh humor atau aksi superheroik, “Migration” tampaknya bukan ke arah itu.
Ini lebih cocok untuk penonton yang siap melihat dunia runtuh dan manusia berjuang dengan cara yang tidak selalu “heroik”.

Info Rilis Singkat

“Greenland 2: Migration” dijadwalkan rilis di Amerika Serikat pada 9 Januari 2026.
Pemeran utama yang kembali termasuk Gerard Butler dan Morena Baccarin, dengan Roman Griffin Davis sebagai Nathan versi remaja. Film ini dipasarkan sebagai thriller survival pasca-bencana yang melanjutkan cerita lima tahun setelah kejadian film pertama.

Kesimpulan kesan awal: “Greenland 2: Migration” terlihat seperti sekuel yang mencoba naik kelas—lebih gelap, lebih luas, dan lebih “pasca kiamat” dibanding film pertamanya. Jika film ini konsisten menjaga fokus pada drama keluarga dan keputusan moral, sambil tetap memberi set-piece bencana yang masuk akal, maka Januari 2026 bisa jadi momen comeback yang solid untuk franchise Greenland. Tinggal satu pertanyaan: apakah harapan di film ini masih punya tempat, atau semuanya hanya soal bertahan sampai napas terakhir? ***