Belibis.com – Awal tahun kerap jadi “uji lapangan” bagi proyek-proyek jalan tol. Di Trans Sumatera, momen Nataru 2025/2026 membuka petunjuk penting: ruas mana yang mulai bisa dinikmati pengguna, dan ruas mana yang sedang dipacu agar konektivitas antarkota kian mulus.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Memasuki awal 2026, perhatian publik kembali tertuju pada Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Bukan hanya karena arus kendaraan meningkat saat libur panjang, tetapi juga karena janji besar JTTS: membuat perjalanan darat antarkabupaten, antarkota, bahkan antarpelabuhan di Sumatra semakin efisien.
Dalam beberapa tahun terakhir, tol-tol baru terus bertambah, namun masih ada titik-titik yang menunggu “sambungan” agar jaringan terasa benar-benar menyatu.Lalu, ruas mana saja yang akan tersambung di awal 2026? Jika memakai kacamata jurnalistik yang ketat, jawaban paling aman adalah membedakan antara:
(1) ruas yang sudah dibuka fungsional di periode pergantian tahun—yang artinya dapat dilintasi dengan skema tertentu—dan
(2) ruas yang ditargetkan fungsional/selesai konstruksi pada kuartal awal 2026, yang masih bergantung pada progres lapangan dan kelengkapan perizinan operasi.

Gambaran Cepat: “Tersambung” di Awal 2026 Itu Artinya Apa?

Istilah “tersambung” sering dipahami sebagai tol yang sudah bisa digunakan penuh dan berbayar. Namun di fase pembangunan, pemerintah dan badan usaha jalan tol kerap membuka operasi fungsional terlebih dahulu: dibuka pada jam tertentu, kendaraan tertentu, dengan rambu sementara, dan kadang belum bertarif.
Skema ini umum dipakai untuk mengurai kepadatan saat liburan sekaligus menguji kesiapan layanan sebelum operasi reguler.

Maka, ketika kita bicara awal 2026, ada dua momen kunci: akhir Desember 2025–awal Januari 2026 (fase Nataru) dan kuartal I 2026 (yang sering dikaitkan dengan persiapan arus mudik Lebaran 2026).

Ruas yang Sudah “Nyambung” untuk Pengguna Jalan di Awal Januari 2026

1) Tol Sigli–Banda Aceh Seksi 1 (Padang Tiji–Seulimeum): Dibuka Fungsional sampai Awal Januari

Dari ujung barat Indonesia, kabar penting datang dari Aceh. Tol Sigli–Banda Aceh Seksi 1 (Padang Tiji–Seulimeum) dibuka secara fungsional sejak 7 Desember 2025 dan dijadwalkan berlangsung hingga 4 Januari 2026.
Pada fase ini, pengoperasian bersifat terbatas: hanya untuk kendaraan golongan I serta angkutan logistik tertentu, dengan jam layanan yang juga ditetapkan.
Namun, secara praktis, pembukaan ini memperlihatkan bahwa koridor Sigli–Banda Aceh terus bergerak menuju konektivitas yang lebih utuh.

Bagi pengguna jalan, dampak yang paling terasa dari pembukaan fungsional adalah hadirnya jalur alternatif yang lebih “langsung” pada momen mobilitas tinggi.
Sementara bagi pemerintah dan operator, fase ini menjadi ajang memastikan elemen keselamatan, pengaturan arus, serta kesiapan operasional berjalan sesuai standar.

2) Tol Palembang–Betung Seksi 2 (Musi Landas–Pulau Rimau): Fungsional saat Nataru

Di Sumatra Selatan, perhatian mengarah ke Tol Palembang–Betung, proyek yang dinilai strategis karena menjadi penguat konektivitas
dari koridor selatan Sumatra menuju bagian tengah. Pada periode Nataru, salah satu segmennya—Seksi 2 Musi Landas–Pulau Rimau—dioperasikan secara fungsional dan disebut masih belum dikenakan tarif pada periode layanan tersebut.
Ini menjadi sinyal bahwa Tol Palembang–Betung memang sedang “didorong” agar manfaatnya bisa lebih cepat dirasakan, meski masih bertahap.

3) Junction Palembang: Ramp Fungsional yang Membantu Pilihan Arah Perjalanan

Selain ruas utama, ada elemen yang sering luput dari perhatian: junction atau simpang susun yang menentukan kelancaran distribusi kendaraan.
Pada periode Nataru, Junction Palembang mengoperasikan beberapa ramp fungsional (termasuk rute dari/ke arah Kramasan dan Palembang, serta arah menuju Kayu Agung) sejak pertengahan Desember hingga awal Januari.
Bagi pengendara, junction yang siap berfungsi ini dapat memangkas “titik ragu” ketika memilih arah perjalanan, terutama di simpul yang padat.

Ruas yang Dibidik “Makin Tersambung” pada Kuartal Awal 2026

1) Tol Palembang–Betung Seksi 1 (Palembang–Rengas): Target Fungsional Kuartal I 2026

Jika awal Januari 2026 masih didominasi fase fungsional Nataru, maka target besar berikutnya adalah Kuartal I 2026.
Kementerian PU menyampaikan target agar Tol Palembang–Betung Seksi 1 (Palembang–Rengas) dapat dibuka fungsional untuk membantu arus perjalanan pada periode Lebaran 2026.
Target ini penting karena Seksi 1 akan memperkuat “pintu masuk” Tol Palembang–Betung dari arah kota Palembang.

Dengan kata lain, apabila Seksi 1 benar-benar fungsional pada kuartal awal 2026, maka jaringan yang sebelumnya terasa terputus-putus berpotensi menjadi lebih menyatu—setidaknya untuk sebagian lintasan yang sudah siap.

2) Tol Palembang–Betung Seksi 3 (Pangkalan Balai–Betung): Target Selesai Konstruksi Triwulan I 2026

Dalam rencana yang dipublikasikan operator, Seksi 3 Pangkalan Balai–Betung ditargetkan selesai konstruksi pada Triwulan I 2026.
Jika target ini tercapai beriringan dengan upaya fungsional Seksi 1, maka konektivitas Palembang–Betung akan semakin solid.
Ini krusial karena Betung dipandang sebagai penghubung penting menuju tahapan JTTS berikutnya ke arah Jambi.

Namun patut diingat, “selesai konstruksi” tidak selalu berarti “langsung beroperasi penuh”.
Tahapan uji laik fungsi/operasi, penerbitan keputusan pengoperasian, hingga kesiapan layanan di lapangan tetap menjadi penentu kapan pengguna bisa menikmati akses reguler.

3) Koridor Betung–Tempino–Jambi: Sambungan Backbone yang Terus Dipacu

Untuk “menjahit” konektivitas Sumatra Selatan–Jambi, proyek Tol Betung–Tempino–Jambi menjadi salah satu tulang punggung JTTS tahap berikutnya.
Salah satu segmen di koridor ini, yaitu Tempino–Simpang Ness, sudah ditetapkan beroperasi sejak 2025 dan sempat dioperasikan tanpa tarif pada masa sosialisasi.
Artinya, dari sisi kesiapan jaringan, sebagian koridor sudah mulai melayani pengguna, sambil menunggu segmen lain menyusul agar konektivitas makin panjang.

Di sisi lain, Hutama Karya juga menyampaikan struktur panjang koridor Betung–Tempino–Jambi yang dibagi menjadi beberapa seksi utama dan pada akhirnya ditujukan untuk terintegrasi dengan jaringan JTTS menuju Lampung.
Jika Tol Palembang–Betung makin matang di 2026, maka efek domino yang diharapkan adalah: jalur dari Palembang menuju arah Jambi kian realistis ditempuh dengan “porsi tol” yang lebih besar.

Apa Dampaknya bagi Pengguna Jalan di 2026?

Ada tiga dampak yang biasanya langsung dirasakan ketika ruas baru mulai tersambung, meski masih fungsional.
Pertama, perjalanan lebih terprediksi—pengendara cenderung mendapat waktu tempuh yang lebih stabil dibanding jalur arteri yang padat dan banyak simpang.
Kedua, beban kendaraan berat bisa lebih terdistribusi ke koridor yang lebih aman dan teratur.
Ketiga, pusat-pusat ekonomi di sekitar interchange berpotensi mengalami peningkatan aktivitas, terutama untuk logistik dan distribusi.

Namun pengguna juga perlu memperhatikan catatan khas operasi fungsional: jam layanan bisa terbatas, ada penyesuaian lajur di titik tertentu, dan aturan kendaraan yang boleh melintas dapat berbeda dibanding operasi normal. Di fase transisi seperti ini, mengikuti rambu dan arahan petugas adalah kunci agar manfaat tol baru tidak berubah menjadi risiko di lapangan.

Awal 2026 adalah Fase “Penyambungan Bertahap”

Jika dirangkum, “ruas yang tersambung di awal 2026” paling nyata terlihat dari pembukaan fungsional periode Nataru:
Tol Sigli–Banda Aceh Seksi 1 (Padang Tiji–Seulimeum), Tol Palembang–Betung Seksi 2 (Musi Landas–Pulau Rimau), serta penguatan konektivitas melalui Junction Palembang.
Sementara itu, pada level target kuartal awal 2026, fokus besar berada pada Tol Palembang–Betung Seksi 1 yang ditargetkan fungsional untuk Lebaran 2026 dan Seksi 3 yang ditargetkan selesai konstruksi di Triwulan I 2026.

Dengan kata lain, 2026 dibuka dengan pola yang sudah akrab dalam pembangunan JTTS: bukan satu lompatan besar dalam semalam, melainkan serangkaian sambungan kecil yang jika konsisten, akan terasa sebagai jaringan besar. Publik tinggal menunggu satu hal: seberapa cepat “fungsional” ini berubah menjadi operasi reguler yang stabil dan nyaman untuk perjalanan harian.