Belibis.com – Upaya tanpa henti tim SAR gabungan dalam pencarian korban bencana longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terus membuahkan hasil signifikan. Pada hari ini, Senin (2/2/2026), tujuh body pack tambahan berhasil dievakuasi dari timbunan material longsoran. Dengan temuan terbaru ini, total kumulatif body pack yang ditemukan dan diangkat dari lokasi bencana telah mencapai angka 83.
SAR Mission Coordinator (SMC), Ade Dian Permana, mengonfirmasi data tersebut, menekankan bahwa operasi pencarian di tengah kondisi medan yang sulit masih terus berlangsung intensif. "Hari ini, tim SAR gabungan menemukan 7 body pack. Secara kumulatif hingga sore ini, total body pack yang berhasil dievakuasi adalah sebanyak 83," ujar Ade Dian.
Temuan hari ini terdistribusi di beberapa sektor kritis pencarian: satu body pack ditemukan di sektor A2, satu di sektor A3, dan lima sisanya berhasil diangkat dari sektor B2.
Fokus utama kini beralih ke proses identifikasi yang dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat. Dari total 83 body pack yang telah dievakuasi, sebanyak 61 korban telah berhasil diidentifikasi dan dikembalikan kepada pihak keluarga. Namun, proses identifikasi lanjutan masih harus dilakukan untuk 20 body pack sisanya.
Ade Dian juga menjelaskan adanya dinamika data dalam proses DVI. Terdapat dua body pack yang setelah proses identifikasi mendalam oleh tim DVI, ternyata merupakan bagian dari satu identitas tunggal yang sebelumnya telah ditemukan. Hal ini menunjukkan kompleksitas dan kehati-hatian tim dalam memastikan setiap identitas korban.
Meskipun jumlah temuan body pack (83) telah melampaui jumlah yang terdaftar dalam Daftar Pencarian (DP) awal, operasi pencarian diputuskan untuk tetap dilanjutkan. Keputusan ini diambil setelah koordinasi intensif antara Incident Commander (IC), tim SAR, dan DVI.
"Maka disepakati bahwa operasi pencarian akan tetap dilanjutkan hingga masa tanggap darurat selesai," terang Ade Dian. Ia menambahkan bahwa Daftar Pencarian (DP) tidak lagi dijadikan target absolut yang harus dicapai, melainkan berfungsi sebagai data pembanding yang dinamis dalam evaluasi operasi lapangan. Hal ini memastikan bahwa seluruh area terdampak telah disisir secara menyeluruh dan tidak ada korban yang terlewatkan, seiring dengan data kondisi lapangan yang terus berkembang. Komitmen penuh diberikan untuk menyelesaikan tugas kemanusiaan ini.


