Belibis.com – Di tengah babak paling berat dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW—saat kehilangan orang-orang terdekat dan penolakan sosial memuncak—Isra Mi’raj kerap dipahami sebagai titik balik: dari duka yang menekan, menuju harapan yang menguatkan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Setiap kali peringatan Isra Mi’raj datang, publik sering mendengar ungkapan yang berulang:
“Ini peristiwa yang terjadi setelah Tahun Kesedihan.” Bahkan, di sebagian tulisan populer, Isra Mi’raj kerap disebut seolah-olah identik dengan “tahun kesedihan yang berakhir bahagia.”Namun, agar tidak salah paham, penting meluruskan satu hal sejak awal: Isra Mi’raj bukan nama lain dari Tahun Kesedihan.
Dalam literatur sejarah Islam (sirah), Tahun Kesedihan merujuk pada periode ketika Nabi Muhammad SAW menghadapi duka mendalam akibat wafatnya dua sosok penopang utama: Khadijah binti Khuwailid (istri) dan Abu Thalib (paman sekaligus pelindung sosial).
Isra Mi’raj kemudian dipahami banyak ulama dan penulis sirah sebagai peristiwa yang hadir setelah fase duka itu sebuah “jawaban langit” yang mengangkat kembali semangat, sekaligus memberi arah baru.

Apa Itu “Tahun Kesedihan” dan Mengapa Begitu Berat?

Dalam catatan sejarah, fase yang dikenal sebagai ‘Aam al-Huzn (Tahun Kesedihan) terjadi ketika tekanan dakwah di Makkah berada pada puncaknya. Nabi Muhammad SAW tidak hanya menghadapi penolakan kaum Quraisy, tetapi juga kehilangan “dua pilar” yang selama ini menjadi penyangga kuat, baik secara emosional maupun sosial.

Khadijah bukan sekadar pendamping hidup. Ia adalah orang pertama yang mempercayai kerasulan Nabi, menguatkan ketika beban dakwah terasa menyesakkan, serta menjadi tempat kembali saat suasana Makkah makin keras.
Sementara Abu Thalib memiliki posisi sosial yang penting. Di tengah kultur Makkah, perlindungan kabilah sering menjadi “tameng” yang mencegah kekerasan terbuka. Setelah Abu Thalib wafat, tekanan terhadap Nabi SAW makin terbuka dan berani.

Akibatnya, Tahun Kesedihan kerap dipahami sebagai periode ketika Nabi SAW mengalami:
duka personal (kehilangan orang terdekat), duka sosial (hilangnya perlindungan), dan duka dakwah (kerasnya penolakan). Dalam situasi seperti itu, manusia manapun bisa goyah. Di sinilah banyak penulis sirah meletakkan konteks Isra Mi’raj: sebuah penguatan, bukan sekadar kisah perjalanan.

Isra Mi’raj: Ketika Kesedihan Bertemu Penguatan

Isra Mi’raj dipahami sebagai dua rangkaian peristiwa: Isra (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha) dan Mi’raj (kenaikan ke langit). Pada level narasi, peristiwa ini berada di wilayah “mukjizat” yang melampaui logika perjalanan biasa. Tetapi pada level makna, banyak ulama menekankan sisi yang sangat manusiawi: Isra Mi’raj hadir sebagai penghiburan dan peneguhan.

Jika Tahun Kesedihan menggambarkan bumi yang terasa sempit oleh tekanan, maka Isra Mi’raj menggambarkan langit yang terasa luas oleh rahmat.
Karena itulah, muncul kesan “berakhir bahagia”: bukan berarti kesedihan lenyap secara instan, melainkan arah batin Nabi SAW diteguhkan bahwa perjuangan tidak berhenti pada fase sulit di Makkah.

Mengapa Dianggap “Berakhir Bahagia”?

Ada beberapa alasan mengapa Isra Mi’raj sering dipandang sebagai penutup babak duka dengan nuansa yang lebih terang. “Bahagia” di sini tidak selalu berarti tawa atau kegembiraan lahiriah, melainkan lahirnya harapan, kepastian tujuan, dan kekuatan spiritual.

1) Ada Pesan: Kesulitan Tidak Menghapus Kedekatan dengan Tuhan

Dalam kacamata keimanan, Isra Mi’raj menunjukkan bahwa di saat manusia merasa paling sendiri,
pertolongan dan penguatan bisa datang dengan cara yang tidak terduga.
Ini bukan sekadar penghiburan emosional, tetapi pesan prinsip: kedekatan dengan Allah tidak diukur dari kondisi nyaman, melainkan dari keteguhan dalam ujian.

2) Shalat Menjadi “Hadiah” Sekaligus Jalan Bertahan

Salah satu inti paling sering disorot dalam peringatan Isra Mi’raj adalah perintah shalat.
Banyak khatib dan penulis menekankan bahwa shalat berfungsi sebagai “tali” yang menguatkan jiwa,
terutama ketika dunia terasa berat. Dalam konteks Tahun Kesedihan, makna ini terasa sangat relevan:
setelah kehilangan penopang di bumi, Nabi SAW mendapatkan penguatan yang lebih kuat dari langit—sebuah disiplin ibadah yang menenangkan, menata, dan meneguhkan.

3) Ada Tanda: Dakwah Akan Memasuki Babak Baru

Tahun Kesedihan sering dipandang sebagai fase “penyempitan” di Makkah.
Dalam rentang sejarah yang tidak lama setelah itu, muncul babak penting: hijrah dan terbentuknya masyarakat baru di Madinah.
Isra Mi’raj kerap diletakkan sebagai “jembatan makna” yang menegaskan bahwa jalan Nabi SAW tidak buntu.
Jadi, “bahagia” yang dimaksud juga bisa dibaca sebagai kabar baik tentang masa depan dakwah.

4) Martabat Nabi SAW Ditegaskan di Tengah Cemooh

Pada masa tekanan di Makkah, Nabi SAW menghadapi ejekan, tuduhan, dan penolakan. Isra Mi’raj—dalam pemahaman umat—menjadi simbol pengangkatan martabat: ketika manusia merendahkan, Allah menguatkan.
Narasi ini memberi pesan kuat bahwa ukuran kemuliaan tidak ditentukan oleh pengakuan manusia, tetapi oleh penilaian Tuhan.

Kenapa Ungkapan Ini Populer di Masyarakat?

Ungkapan “Isra Mi’raj sebagai tahun kesedihan yang berakhir bahagia” populer karena ia mudah dipahami dan terasa dekat dengan pengalaman banyak orang. Hampir setiap orang pernah mengalami fase “Tahun Kesedihan” versi masing-masing:
kehilangan orang terdekat, usaha yang runtuh, kesehatan yang terganggu, atau tekanan ekonomi.
Ketika kisah besar agama dipahami lewat lensa pengalaman manusia, ia menjadi lebih mengena.

Namun, sekali lagi, agar akurat, lebih tepat menyebutnya begini:
Isra Mi’raj terjadi setelah fase berat yang dikenal sebagai Tahun Kesedihan, lalu menjadi peristiwa penguat yang membuka harapan. Dengan rumusan ini, maknanya tetap kuat tanpa mengaburkan istilah sejarahnya.

Pelajaran untuk Hari Ini: Mengubah Duka Menjadi Arah

Isra Mi’raj sering diperingati secara seremonial: pengajian, tausiyah, lomba, hingga unggahan media sosial.
Tetapi inti refleksinya jauh lebih praktis. Ada pelajaran yang bisa dibawa ke kehidupan sehari-hari:

  • Duka tidak selalu butuh jawaban cepat, tapi butuh pegangan. Dalam tradisi Islam, pegangan itu salah satunya shalat dan doa.
  • Fase sempit tidak selalu akhir cerita. Kadang justru menjadi “pintu” menuju babak baru yang lebih luas.
  • Makna bahagia bisa berupa ketenangan dan arah. Bukan berarti masalah hilang, tetapi hati tidak lagi tercerai-berai.
  • Kesulitan dapat memperdalam spiritualitas. Seperti Isra Mi’raj yang hadir pada masa berat, banyak orang justru menemukan kekuatan
    saat berada di titik terendah.
Jadi, mengapa Isra Mi’raj “disebut” sebagai Tahun Kesedihan yang berakhir bahagia?
Karena dalam ingatan kolektif umat, Isra Mi’raj hadir di sekitar fase paling berat yang dikenal sebagai Tahun Kesedihan, lalu berperan sebagai titik balik penguatan: membawa pesan harapan, meneguhkan Nabi SAW, dan menghadirkan shalat sebagai jalan bertahan.“Bahagia” yang dimaksud bukan euforia sesaat, melainkan kembalinya arah dan keteguhan.
Dan itulah mengapa setiap peringatan Isra Mi’raj bukan hanya mengingat peristiwa besar, tetapi juga mengingat satu prinsip sederhana: ketika hidup terasa sempit, selalu ada ruang luas untuk berharap selama hati tetap terhubung kepada Tuhan.