Belibis.com – Revolusi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia kini bukan lagi wacana masa depan, melainkan realitas bisnis yang masif. Amazon Web Services (AWS) baru-baru ini merilis data mengejutkan yang menunjukkan laju adopsi AI di tanah air yang melesat tajam, mengubah cara kerja dan pundi-pundi perusahaan.
Berdasarkan laporan terbaru dari AWS berjudul ‘Unlocking Indonesia’s AI Potential’, yang disusun bersama Strand Partners, tercatat bahwa pada tahun 2024, setidaknya 5,9 juta perusahaan di Indonesia telah mengimplementasikan AI dalam operasional mereka. Angka ini diproyeksikan melonjak drastis sebesar 47% pada tahun berikutnya, mengindikasikan bahwa AI telah menjadi kebutuhan fundamental bagi dunia usaha.
Anthony Amni, Country Manager AWS Indonesia, dalam sebuah media briefing di Jakarta, Rabu (4/2/2026), mengungkapkan bahwa adopsi masif ini tidak hanya sekadar tren, tetapi telah menghasilkan dampak bisnis nyata dan terukur.
"Kami melihat real business impact yang signifikan dari perusahaan-perusahaan yang mengadopsi teknologi ini," ujar Anthony. Ia merinci bahwa 59% perusahaan melaporkan peningkatan pertumbuhan pendapatan (revenue growth) berkat AI, sementara 68% lainnya mencatat peningkatan dramatis dalam produktivitas operasional.
Salah satu contoh sukses datang dari Telkomsel. Perusahaan telekomunikasi raksasa tersebut mengembangkan aplikasi berbasis Generative AI untuk analisis insiden. Berkat alat canggih ini, Telkomsel diklaim mampu mendeteksi dan memperbaiki bug hingga 83% lebih cepat dibandingkan metode konvensional. Efisiensi waktu yang luar biasa ini tentu berdampak langsung pada kualitas layanan dan penghematan biaya.
Masa Depan Otonom: Era Agen AI
Dalam kesempatan yang sama, Joel Garcia, ASEAN Technology for Strategic Initiatives AWS, menyoroti pergeseran tren AI di lingkungan bisnis. Saat ini, fokus mulai beralih ke Agentic AI (Agen AI), di mana kecerdasan buatan tidak hanya sekadar membantu, tetapi mampu bekerja secara otonom untuk menyelesaikan tugas-tugas kompleks di bawah pengawasan manusia. Agen AI ini bertindak layaknya karyawan virtual yang cerdas dan mandiri.
Menyambut era AI otonom di tahun 2026, AWS telah menyiapkan serangkaian solusi yang disebut Frontier Agents. Salah satu komponen unggulannya adalah Kiro Autonomous Agent, yang dirancang khusus untuk mempercepat pengembangan perangkat lunak. Garcia menjelaskan bahwa Kiro berfungsi efektif sebagai tim tambahan bagi para pengembang (developer).
"Kiro Autonomous Agent dapat menyelesaikan tugas yang rumit, misalnya, melatih bug, atau bahkan secara mandiri meningkatkan kualitas kode (code enhancement)," jelas Garcia.
Selain Kiro, Frontier Agents juga mencakup Security Agent yang bertugas memberikan rekomendasi keamanan secara proaktif dan DevOps Agent. DevOps Agent bekerja tanpa henti selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, untuk mendeteksi insiden, mengidentifikasi akar masalah (root cause), dan mempercepat resolusi.
"Dengan adanya DevOps Agent, teknisi kami dapat mengidentifikasi masalah terlebih dahulu, sehingga tim engineer tahu persis di mana harus fokus untuk menyelesaikan isu tersebut dengan cepat, meminimalkan downtime," tutup Garcia, menekankan pentingnya otomatisasi dalam menjaga kelangsungan bisnis modern.


