Belibis.com – Jalur KRL Commuter Line Bogor-Jakarta Kota, yang dikenal sebagai Red Line, adalah arteri utama pergerakan jutaan warga Ibu Kota. Di tengah hiruk pikuk dan kepadatan jam sibuk, terutama pada segmen Manggarai menuju Jakarta Kota, terdapat enam stasiun layang yang bukan hanya berfungsi sebagai titik transit, tetapi juga sebagai penanda visual yang kaya makna. Keenam stasiun ikonik tersebut—Cikini, Gondangdia, Juanda, Sawah Besar, Mangga Besar, dan Jayakarta—memiliki identitas warna yang ternyata dirancang bukan sekadar untuk estetika semata.
Sejak lama, para roker (rombongan kereta) pasti menyadari transisi visual yang mencolok di sepanjang jalur layang ini. Stasiun-stasiun ini dibangun di atas jalur rel yang ditinggikan, yang merupakan bagian dari proyek modernisasi perkeretaapian Jakarta pada era 1980-an hingga awal 1990-an.
Dimulai dari Stasiun Cikini, penumpang disambut dengan dominasi warna cokelat yang solid, tersemat pada keramik dan tiang-tiang penyangga. Warna cokelat ini seringkali diasosiasikan dengan stabilitas dan kesan klasik. Perjalanan berlanjut ke Stasiun Gondangdia yang menawarkan suasana jauh lebih cerah dengan ciri khas warna kuning menyala. Kuning memberikan kesan energi dan visibilitas tinggi.
Selanjutnya, Stasiun Juanda tampil berbeda dengan gradasi biru yang menenangkan. Biru, sering dihubungkan dengan kejernihan dan kemudahan navigasi, sangat cocok mengingat Juanda adalah salah satu stasiun transfer penting menuju pusat pemerintahan. Bergeser sedikit ke utara, Stasiun Sawah Besar mengadopsi nuansa ungu muda yang lembut. Kemudian, Stasiun Mangga Besar menggunakan kelir oranye yang cerah dan hangat, sebelum akhirnya tiba di Stasiun Jayakarta yang mentereng dengan aksen pink fanta sebelum kereta memasuki Stasiun Jakarta Kota.
Pilihan warna yang berbeda-beda ini bukanlah kebetulan arsitektur. Data sejarah perkeretaapian mengungkap bahwa pada masa awal operasional jalur layang ini, sistem pengumuman digital atau audio mengenai nama stasiun yang akan didatangi belum sekomprehensif hari ini. Oleh karena itu, skema pewarnaan yang unik dan berbeda di setiap stasiun berfungsi sebagai sistem navigasi visual yang vital bagi penumpang.
"Dulu belum secanggih sekarang, pengumuman juga terbatas. Jadi, kalau sudah lihat warnanya, kita tahu, ‘Oh, sudah sampai stasiun ini’," kenang Ani (66), seorang penumpang veteran KRL yang ditemui di Stasiun Juanda. Sistem kode warna ini secara efektif membantu penumpang, terutama yang memiliki keterbatasan penglihatan atau pendengaran dalam gerbong yang penuh sesak, untuk mengidentifikasi tujuan mereka tanpa harus bergantung penuh pada pengumuman lisan.
Selain fungsi navigasi historisnya, identitas warna ini kini memberikan dampak psikologis yang positif. Dias (27), seorang komuter, berpendapat bahwa variasi warna membuat pengalaman perjalanan yang seringkali melelahkan menjadi lebih segar. "Lebih nyaman aja dilihatnya. Jadi kaya nggak terlalu asing. Terutama untuk orang-orang yang baru datang atau yang merantau," ujarnya.
Dalam keramaian jalur yang menghubungkan jantung Bogor hingga pusat sejarah Jakarta ini, warna-warni stasiun menjadi semacam penyegar visual. Mereka mengingatkan kita bahwa di balik desakan dan kecepatan ibu kota, masih ada perhatian terhadap detail yang bertujuan memudahkan mobilitas warga. Bahkan ketika gerbong penuh sesak, filosofi di balik warna-warna cerah ini seolah mengamini pantun khas kondektur yang sering terdengar:
Bunga mawar harum mewangi
Tumbuh subuh di taman istana
Walau KRL berdesakan begini
Tetap sabar, jangan lupa senyumnya


