Belibis.com – Musim penghujan yang intensitasnya tinggi telah mengubah banyak ruas jalanan Ibu Kota dan daerah penyangga menjadi medan perang bagi pengendara. Genangan air seringkali menyamarkan lubang-lubang besar yang siap menjadi jebakan maut, tidak hanya merusak kenyamanan berkendara, tetapi juga mengancam keselamatan dan integritas kendaraan. Laporan menunjukkan peningkatan drastis kasus ban pecah dan kerusakan pelek (velg) akibat menghantam jalan berlubang tanpa terhindarkan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Situasi ini menuntut kesiapan ekstra dari para pengemudi. Menurut praktisi keselamatan berkendara dari Ikatan Motor Indonesia (IMI), Erreza Hardian, langkah paling mutlak untuk memitigasi risiko adalah menghindari paparan terhadap jalanan rusak itu sendiri.

“Dalam kondisi jalanan yang ekstrem seperti saat ini, solusi paling akurat adalah membatasi mobilitas menggunakan kendaraan pribadi. Kurangi perjalanan yang tidak esensial. Ini adalah cara paling efektif menurunkan risiko kerusakan atau kecelakaan,” ujar Reza. Opsi kedua yang bisa dipertimbangkan adalah beralih menggunakan moda transportasi publik yang dinilai lebih aman dalam menghadapi infrastruktur jalan yang memburuk.

Tiga Kunci Utama Keselamatan di Jalan Berlubang

Apabila bepergian menggunakan kendaraan pribadi tidak dapat dihindari, Reza menekankan tiga teknik berkendara yang wajib diterapkan:

1. Terapkan Prinsip Kecepatan Aman (Lihat, Pikir, Bertindak)
Pengurangan kecepatan adalah strategi paling fundamental. Kecepatan yang lebih rendah memberi pengemudi waktu kritis untuk melihat potensi bahaya, memproses risiko, dan bertindak (menghindar atau mengerem) dengan tepat. Pengemudi disarankan untuk selalu mengamati pergerakan 2 hingga 3 mobil di depan. Jika kendaraan di depan tampak ‘bergoyang’ atau tiba-tiba mengerem, itu adalah indikasi kuat adanya genangan air dalam atau lubang tersembunyi.

2. Pastikan Tekanan Angin Ban Sesuai Standar Pabrikan
Tekanan angin ban sering dianggap sepele, padahal ini adalah faktor penentu utama keselamatan. Bagi pemilik mobil dengan ban tipe radial (ditandai dengan kode ‘R’ pada dinding ban), struktur ban cenderung lebih tipis di bagian samping (sidewall). Tekanan angin yang kurang akan membuat ban menekuk atau bahkan melipat saat menghantam permukaan yang tidak rata.

Ban berfungsi sebagai suspensi sekunder. Jika tekanan angin di bawah rekomendasi, fungsi peredam kejut ini hilang, menyebabkan pelek langsung berbenturan dengan permukaan lubang, yang diperparah dengan kecepatan tinggi. Benturan keras tersebut, apalagi ditambah kondisi ban yang sudah mengalami tekanan panas berlebih (akibat kekurangan angin saat perjalanan jauh atau macet), menjadi pemicu utama pecah ban mendadak dan kerusakan permanen pada pelek. Pastikan standar tekanan angin dicek secara berkala, informasinya biasanya tertera pada buku manual kendaraan atau stiker di sisi pintu pengemudi.

3. Teknik Khusus untuk Pengendara Sepeda Motor (Upgrading Skill)
Untuk pengendara motor, tantangan menghadapi lubang jauh lebih besar karena stabilitasnya yang minim. Reza menyarankan agar pemotor terus mengasah keterampilan berkendara (upgrading skill). Dua teknik sederhana yang bisa diterapkan segera adalah:

Pertama, hindari menggenggam setang motor terlalu erat atau kaku. Genggaman yang rileks memungkinkan motor bergerak atau bergoyang sedikit saat melewati ketidakrataan tanpa memindahkan seluruh gaya benturan langsung ke tubuh bagian atas.

Kedua, gunakan kaki sebagai peredam kejut sekunder. Jika kondisi memungkinkan dan aman, berdirilah sedikit di pijakan kaki (footpeg). Posisi ini memungkinkan kaki menyerap guncangan sebelum mencapai pinggul dan punggung, secara signifikan mengurangi risiko kehilangan kendali atau terjatuh saat melewati lubang yang dalam.